Selasa, 22 Juli 2014

Takdirkah Dia Untukku?


Menapaki setapak kerinduan di malam sunyi
Merasakan hawa dingin menusuk hati
Kegelisahan mengimbangi detak nadi
Merengkuh diatas sajadah mengucap tasbih, menghembuskan kalimat suci tiada henti
Jiwa sudah tak kenal letih, mendoakan yang jauh dari diri
Ketika lisan bertasbih, mendamba sang pemilik hati
Syair cinta-Mu mendekap sukma, menabur biji
Tumbuh kokoh sebagai iman yang fiqih
Cukup Engkau Yang Maha Mengetahui
Cinta-Mu begitu indah tak tertandingi
Apa guna tembok menghalangi, jika tak sabar menanti
Bertahan menunggu waktu yang dimimpi, mengharap ridho Sang Illahi
Basah akan peluh, tak menyurutkan cinta abadi
Kesabaran hati tak melenyapkan cinta sejati
Selama Ibu membesarkanku, selama itu pula aku menjaga hatiku
Duhai Engkau yang telah menciptakannya, takdirkah dia untukku?

Senin, 21 Juli 2014

Kembali (lagi)


Masih dalam balutan mentari, menyertakan senyuman abadi
Menghadirkan ketenangan ditengah langit
Awan berkumpul mendengarkan
Senandung sang mawar merekah menghias udara
Kicau burung menyatukan embun dengan alam
Pantulan cahaya memeluk genangan, merasakan aroma kedamaian
Sedetik merasuki angin lalu, tercipta suasana dahulu
Menelusuri waktu kebebasan
Mencari jalan waktu yang sama, dan kutemukan
Memori indah yang terukir di atas kertas kenangan
Meresap dalam oleh tinta hitam
Senyum lugu terukir diatas sampul, menandakan kenangan tanpa beban
Sejuk angin ketulusan membungkus rapi kenangan. tertinggal pada waktu yang lama
Sejenak hati membuka perlahan, bungkusan rapi disemat pita
Sedikit celah tercipta, memberi kesan pertama
Menghapus segala kecewa yang ada
Suasana dahulu yang datang kembali, teringat akan segala memori
Kembali menarik hati, dia ada disini seperti memaksa kembali
Mengikat perasaan agar tak menjauh pergi
Terjebak dalam lubang kenangan yang bukan ilusi
Mencoba memberi kenyamanan pasti
Dia masih disini, membangun realita inti
Menyadarkan kekosongan hati bahwa kini ada yang menempati.